Ratusan Rumah Terancam Longsor Akibat Kikisan Sungai

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM" Kondisi salah satu rumah warga yang berada di bantaran Sungai Ciapus di daerah Bogor Barat yang terus mengakami pengikisan karena derasnya arus sungai Ciapus diduga karena kurangnya daerah resapan, Selasa (12/7). Ratusan rumah warga yang berada di bantaran Sungai Ciapus terancam longsor karena pengikisan tanah di bantaran sungai yang semakin parah. *

BOGOR, (PRLM).- Ratusan rumah yang ada di bantaran Sungai Ciapus di wilayah Bogor Barat, Bogor Selatan Kota Bogor hingga Kec. Ciomas Kab. Bogor terancam longsor pascabanjir bandang yang menerjang kawasan tersebut akhir Mei lalu. Hingga saat ini, tanah di sekitar aliran sungai ini terus mengalami pengikisan sehingga membuat cemas warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai tersebut.

Salah seorang warga Bogor Barat, Yani (45) yang ditemui "PRLM", Selasa (12/7) mengaku keluarganya selalu mengungsi jika hujan deras turun di wilayahnya. "Bahkan, kalau udah keliatan mendung sedikit saja, anak-anak saya sudah panik dan ketakutan dan pengen ngungsi aja. Mungkin trauma atau memang benar-benar takut banjir bandang kembali melanda. Soalnya sekarang saja, teras rumah kami terus terkikis air sungai," ungkap Yani.

Menurut Yani, beberapa waktu lalu Lurah setempat sempat datang meninjau lokasi. Namun, tidak ada janji atau solusi yang ditawarkan untuk warga. "Ya, kami sih, mintanya supaya bantaran kalinya ditata lagi. Entah itu ditanggul atau digimanain. Yang penting bikin warga tenang tinggal di rumahnya dan tidak perlu ngungsi lagi karena takut rumahnya longsor," kata Yani.

Selain keluarga Yani, beberapa keluarga yang ada di bantaran sungai tersebut juga mengaku sering waswas saat hujan lebat turun di wilayah mereka. saking takutnya, mereka lebih sering mengungsi ke rumah saudara yang lebih aman dibandingkan tinggal di rumah mereka sendiri.

"Rumah ditinggalin saja. Kalau hanya barang yang hilang masih bisa dicari lagi. Tapi kalau nyawa,enggak bisa diganti," ujar warga lainnya, Yuli (34).

Dikatakan Yuli, sejak banjir bandang terjadi, pengikisan tanah di sekitar sungai terus terjadi. Bahkan, tanggul darurat yang terbuat dari bebatuan yang ditata oleh warga pun sudah mengkhawatirkan karena terlihat rapuh. Banyak pula bagian belakang puluhan rumah yang ada di bantaran sungai ini juga hampir habis terkikis air sungai.

"Sekarang, bagian dapur saya sudah hampir mepet dengan air sungai. Takutnya, kalau hujan deras rumah kami ambruk karena tanahnya longsor terseret air sungai," kata salah seorang warga Ciomas, Dedeh (54).

Menurut dia, warga sudah melaporkan kerisauan mereka ini kepadfa pejabat desa terdekat. Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan yang positif soal perbaikan bantaran kali atau pembangunan tanggul di sisi kali.

"Kalau bisa memang dibangun tanggul penahan agar air sungai tidak terus menerus mengikis tanah dan rumah kami. Atau digimanainlah, yang penting warga merasa nyaman," lanjut Dedeh.

Ancaman tanah longsor akibat pengikisan oleh air sungai juga terjadi pada pemukiman di sekitar SD Ciapus 06, Desa Sukaraja Kec. Ciomas, Kab. Bogor. Derasnya aliran sungai serta kurabngnya lahan resapan air diduga menjadi penyebab utama atanah semakin habis terkikis dan terancam longsor.

"Saya khawatir SD akan longsor dan menjalar ke SMAN Ciomas. Saat ini saja tanah terus mengikis bahkan ada makam yang hampir tertimbun," kata Kepala SMAN 1 Ciomas, Agus Purwanto.

Saat ini, warga hanya bisa membuat tanggul sementara dengan menanam pohon di sepanjang bantaran sungai guna menghindari abrasi. "Tapi kayaknya enggak akan optimal. Sebab, hujan yang kemarin saja bisa menghanyutkan pohon besar, gimana dengan tanaman yang kecil ini," ucap salah seoang warga, Jefri (54).

Catatan pada Pemerintahan Kecamatan Ciomas menyebutkan Desa Sukaraja dan Sukamakmur memang daerah rawan longsor karena tanah di aliran Sungai Ciapus terus mengalami pengikisan. Kasi Pembangunan Kecamatan Ciomas, Toto Susilo mengatakan pihaknya terus menghimpun laporan dari desa dan warga. "Kami masih menunggu laporan akurat, untuk kami tindaklanjuti," lanjutnya.

Menurut dia, apabila kondisi mendesak dan membahayakan warga, maka akan diusulkan bantuan bronjong kepada pemkab. "Meski tidak bisa langsung cair, karena butuh proses dan mekanisme yang relatif panjang," tambah Toto. (A-155/A-88)***


View the original article here


Category Article , , , , , ,

What's on Your Mind...