Home > Sosial > Infrastruktur Mudik vs Masalah Sosial
Infrastruktur Mudik vs Masalah Sosial
Posted on Senin, 13 Agustus 2012 by dragon kenshin
Bandung - Prosesi mudik Lebaran dimulai. Bermula dari tradisi pergi nyekar pada masyarakat petani Jawa jauh sebelum Islam masuk Nusantara, mudik telah berkembang menjadi sebuah prosesi akbar menyongsong Lebaran.
Tahun ini sekitar 30 juta warga negara Indonesia berbondong-bondong bergerak menuju kampung halaman mereka masing-masing mulai sepuluh hari sebelum Idul Fitri.
Pemerintah menetapkan masa angkutan Lebaran tahun ini dimulai pada 4 Agustus hingga 4 September 2012 (H-15 dan H+15) untuk angkutan laut dan 12-27 Agustus 2012 (H-7 dan H+7) untuk angkutan jalan, angkutan sungai danau dan penyeberangan (ASDP), kereta api (KA) dan udara.
Jawa Barat merupakan daerah yang dilintasi paling banyak pemudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, serta dari arah sebaliknya menuju Pulau Sumatera.
Polda Jawa Barat memprediksi sekitar 5,6 juta orang akan menggunakan jalan darat. Lebih dari 34.000 personel dari Polri, TNI, Dishub, Satpol, Dinkes, Bina Marga, Damkar, serta tim SAR, Orari, dan Pramuka dikerahkan untuk menjamin kelancaran, keselamatan, dan keamanan arus mudik. Dalam Operasi Ketupat Lodaya 2012 ini Polda Jabar juga menyiapkan dua unit helikopter untuk memantau arus lalu lintas dari udara.
Pertanyaannya, apakah arus mudik kali ini bisa lebih lancar dibanding tahun lalu? Mudah-mudah. Yang pasti, kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, infrastruktur mudik baik di jalur utara, tengah, maupun selatan sudah siap dilalui. Beberapa titik yang biasa menjadi biang kerok kemacetan memang telah diatasi.
Misalnya di jalur selatan, Lingkar Nagreg sudah jauh lebih siap di banding tahun-tahun sebelumnya. Begitu pula jalur baru Gentong sepanjang 1,2 km sudah bisa dipergunakan kendati belum rampung 100%. Kondisi jalur Pantura juga lebih baik. Untuk memperlancar arus lalu lintas di jalur yang panjangnya mencapai 1.182 km itu Pemerintah Pusat tahun ini menggelontorkan dana Rp1,03 triliun.
Yang belum banyak disentuh adalah pasar-pasar tumpah, yang justru selama ini menjadi penyebab kemacetan yang paling parah saat mudik Lebaran. Selain itu, keberadaan pasar tumpah sering kali menyebabkan kecelakaan yang memakan korban jiwa. Titik paling rawan di jalur Pantura ada wilayah Tegal Gubug dan Palimanan. Sedangkan di jalur tengah berada di kawasan Tanjung Sari, dan di lintas selatan terdapat di daerah Limbangan, Kabupaten Garut.
Selain pasar tumpah, yang perlu segera ditangani oleh aparat kepolisian dan Muspida setempat adalah penyalahgunaan badan jalan oleh kelompok-kelompok peminta sumbangan untuk masjid yang biasanya menjamur di musim mudik Lebaran. Tidak sedikit pengumpul sumbangan yang menutup separo badan jalan untuk memaksa kendaraan mengurangi kecepatan. Akibatnya, kemacetan pun tak terhindarkan.
Setiap tahun, terutama menjelang musim mudik Lebaran, triliunan rupiah uang negara dihabiskan untuk memperbaiki infrastruktur. Kondisinya memang menunjukkan tren membaik. Tapi, semua itu bisa berkurang manfaatnya jika perilaku sosial masyarakat di sepanjang jalur mudik tidak diperbaiki.
Pasar tumpah dan peminta sumbangan adalah masalah sosial. Dan ini mestinya menjadi PR Menko Kesra, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, MUI, dinas-dinas terkait, dan Muspida setempat. Segeralah bergerak untuk menyadarkan masyarakat setempat bahwa jalan tidak boleh dimanfaatkan untuk keperluan yang bisa mengganggu arus mudik Lebaran!
*Tulisan Fokus InilahKoran, Senin (13/8/2012)
Category Article Infrastruktur, Masalah, Mudik, Sosial